Soempah Pemoeda Kapal
By: Wahyu
Bangun Pemudi PemudaCiptaan A. SimanjuntakBangun pemudi pemuda IndonesiaTangan bajumu singsingkan untuk negaraMasa yang akan datang kewajibanmu lahMenjadi tanggunganmu terhadap nusaMenjadi tanggunganmu terhadap nusaSudi tetap berusaha jujur dan ikhlasTak usah banyak bicara trus kerja kerasHati teguh dan lurus pikir tetap jernihBertingkah laku halus hai putra negriBertingkah laku halus hai putra negri
Apabila ada sebuah pertanyaan di ajukan, “Kapan terakhir kali kalian menyanyikan lagu nasional di atas?” Mungkin jawabannya singkat, “Lupa, gak ingat.
Jangankan di suruh mengingat kapan terakhir kali lagu nasional itu di nyanyikan, bahkan bait bait dalam lagu itupun hampir tak utuh dalam menghapalnya. Ah.. Indonesiaku…. sekali lagi, ternyata banyak indoktrinasi di sekolah dulu yang tidak masuk utuh ke kepala kita semua.
Dulu sewaktu bersekolah, tidak ada satu gurupun yang mengajar untuk menjadi miskin dan putus pengharapan. Doktrin kerja keras, hati teguh dan sikap pantang menyerah selalu di dengungkan. Namun kenyataan kini yang kita hadapi banyak pemuda yang berbalik 180 derajat salah arah. Putus pengharapan dan miskin semangat, banyak berkoar tapi berpikiran keruh, bertingkah laku kasar sembari menyitir ayat ayat suci sebagai pembenaran.
Kadang dalam permenungan sendiri sewaktu di cabin, saya berfikir pemuda Indonesia kah saya? Toh usia saya hampir kepala empat dan saya hanya merasa menjadi pemuda dari keluarga sendiri, kalangan sendiri. Sejak kapan ya aku di baptis menjadi pemuda Indonesia ? Kalaupun secara otomatis di tasbihkan menjadi pemuda Indonesia , selama ini terus dharma bakti sampai dimana? La wong punya NPWP saja baru kemarin, itu saja karena ada keharusan.
Dulu Lae Simanjutak sewaktu menciptakan lagu kebangsaan itu, barangkali di atas atap rumahnya berdesingan peluru peluru belanda, jaman revolusi yang mengharuskan menyisingkan baju membela nusa, mengusir penjajahan. Namun sekarang ini barangkali pemuda pemuda kita kesulitan untuk memfokuskan “penjajah” mana yang harus di perangi?
Namun bagi saya perjuangan sekarang ini adalah mengusir kemiskinan dari bumi nusantara.
Bahwa sering kali, dan bahkan tiap kali peristiwa bersejarah dibumi pertiwi ini di pelopori oleh pemuda. Dan memang kaum mudalah yang mau mengambil resiko menjadi pelaku bersejarah, pemberani dan nekat. Sebut saja dari tahun 1908 boedi oetomo, 1928 soempah pemoeda, sampai dengan reformasi 1998 kemarin, kaum muda lah pelopornya.
Namun setiap kali saya mengamati gerakan gerakan pemuda itu, ternyata gerakan itu hanya bersifat politik yakni menumbangkan kekuasaan. Mungkin saya kurang berpengetahuan, tapi setahu saya, tidak banyak peran pemuda dalam mengusir kemiskinan.
Dan akhirnya pun sayapun menghela nafas, senyum simpul dan kemudian berani mengambil kesimpulan Ternyata kita pelaut pelaut adalah pejuang tangguh, berani mengarungi lautan, meninggalkan sanak keluarga tercinta demi memerangi kemiskinan. Saya yakin dan berani bertaruh bahwa perjuangan kalian di kapal ini bukan untuk kalian sendiri akan tetapi demi kejayaan keluarga, kerabat dan akhirnya kejayaan bangsa semuanya.
Sayang waktu sudah menunjukan pukul 01.19 pagi, barangkali akan di lanjut di lain kesempatan.
By: Wahyu
Ms. Zaandam, 28 Oktober 2008
Semangat Sumpah Pemuda
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/28/01382224/tajuk.rencanaSekalipun sejarah tidak mengenal pengandaian, perlu diakui, SumpahPemuda bagi Indonesia telah memberikan landasan penting bagi persatuan.Makna Sumpah Pemuda, yang persis diikrarkan 80 tahun lalu itu, terasasemakin penting sebagai tonggak sejarah, lebih-lebih kalau dicermati,masih banyak negara di dunia direpotkan persoalan identitas dan jati diri.Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, kaum mudamelakukan antisipasi, mengikrarkan sumpah 28 Oktober 1928 yangmeletakkan dasar permanen satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.Kontribusi para pencetus dan pelaku Sumpah Pemuda sungguh luar biasa.Bangsa Indonesia yang bercorak pluralistis suku, bahasa, adat,kepercayaan, dan hidup terpencar-pencar di ribuan pulau, dipersatukandalam perjuangan pembentukan negara-bangsa.Setelah waktu berlalu 80 tahun, bagaimanakah citra dan kiprah kesatuandan persatuan Indonesia . Sungguh memprihatinkan, apa yang dicapai dimasa lalu itu justru terkesan ditelantarkan. Semangat kesatuan surut,bahkan muncul kekhawatiran tentang bahaya disitegrasi jika ancamankonflik tidak segera dikendalikan. Sendi-sendi persatuan dan kesatuanrapuh oleh meningkatnya sikap saling curiga dan melemahnya sikapsaling percaya.Perlu dikemukakan, semangat kesatuan dan persatuan tidak bolehditerima begitu saja dan apa adanya. Sangat diperlukan upayaberkelanjutan untuk menjaga dan memeliharanya. Tantangan terbesarbagaimana meningkatkan kualitas persatuan.Makna kesatuan atau persatuan misalnya akan hambar jika kesenjangansosial dan kemiskinan dibiarkan merebak luas. Rasa senasib danseperjuangan sebagai sesama warga negara tidak akan menguat jika sikapsolidaritas dan kepedulian tidak dijaga serta dikembangkan dari waktuke waktu.Telah muncul keprihatinan, kaum elite cenderung hidup dalam keasyikansendiri, tanpa peduli terhadap nasib rakyat banyak yang terus bergulatmenghadapi kesulitan hidup, lebih-lebih sekarang ini.Tampaknya, bukan hanya kesatuan dan persatuan yang kedodoran. BangsaIndonesia sampai sekarang juga kurang memenuhi komitmen untuk mengisikemerdekaan sebagai jembatan menuju kesejahteraan sosial.Puluhan juta rakyat Indonesia masih hidup melarat dalam kemiskinan danketerbelakangan. Tidak sedikit pula rakyat Indonesia mengadu nasibjauh ke negeri orang karena tekanan hidup dalam negeri.Sungguh ironi, Indonesia yang kaya sumber alam tidak mampu memberiseluruh 225 juta penduduknya makan. Penyebabnya antara lain salahkelola dan praktik korupsi yang merebak luas.Bangsa Indonesia akan tetap tertinggal jauh di belakang jika keduakelemahan itu tidak segera dibereskan. Jelas pula, makna dan kualitaspersatuan hanya akan meningkat jika didukung oleh kemajuan ekonomi dansosial politik yang berkeadilan.
SUMPAH PEMUDA
Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai "Hari Sumpah Pemuda".
PERTAMA.
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia , Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia . KEDOEA.
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia , Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia . KETIGA.
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia , Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Sejarah Gedung
Menurut catatan yang ada, Museum Sumpah Pemuda pada awalnya
adalah rumah tinggal milik Sie Kong Liang. Gedung didirikan pada permulaan
abad ke-20. Sejak 1908 Gedung Kramat disewa pelajar Stovia (School tot
Opleiding van Inlandsche Artsen) dan RS (Rechtsschool) sebagai tempat tinggal
dan belajar. Saat itu dikenal dengan nama Commensalen Huis. Mahasiswa
yang pernah tinggal adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi
( Surabaya ), Soerjadi ( Jakarta ), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand
Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali,
Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan
Katjasungkana
Sejak tahun 1927 Gedung Kramat 106 digunakan oleh berbagai
organisasi pergerakan pemuda untuk melakukan kegiatan pergerakan. Bung Karno
dan tokoh-tokoh Algemeene Studie Club Bandung sering hadir di Gedung Kramat
106 untuk membicarakan format perjuangan dengan para penghuni Gedung Kramat
106. Di gedung ini pernah diselenggarakan kongres Sekar Roekoen, Pemuda Indonesia ,
PPPI. Gedung ini juga menjadi sekretariat PPPI dan sekretariat majalah Indonesia
Raja yang dikeluarkan PPPI. Mengingat digunakan berbagai organisasi, maka
sejak tahun 1927 Gedung Kramat 106 yang semula bernama Langen Siswo
diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung
pertemuan).
Pada 15 Agustus 1928, di gedung ini diputuskan akan
diselenggarakan Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928. Soegondo
Djojopuspito, ketua PPPI, terpilih sebagai ketua kongres. Kalau pada Kongres
Pemuda Pertama telah berhasil diselesaikan perbedaan-perbedaan sempit
berdasarkan kedaerahan dan tercipta persatuan bangsa Indonesia ,
Kongres Pemuda Kedua diharapkan akan menghasilkan keputusan yang lebih maju.
Di gedung ini memang dihasilkan keputusan yang lebih maju, yang kemudian
dikenal sebagai sumpah pemuda.
Setelah peristiwa Sumpah Pemuda banyak penghuninya yang meninggalkan
gedung Indonesische Clubgebouw karena sudah lulus belajar. Setelah para
pelajar tidak melanjutkan sewanya pada tahun 1934, gedung kemudian disewakan
kepada Pang Tjem Jam selama tahun 1934 – 1937. Pang Tjem Jam menggunakan
gedung itu sebagai rumah tinggal. Kemudian pada tahun 1937 – 1951 gedung ini
disewa Loh Jing Tjoe yang menggunakannya sebagai toko bunga (1937-1948) dan
hotel Hersia (1948-1951). Pada tahun 1951 – 1970, Gedung Kramat 106 disewa
Inspektorat Bea dan Cukai untuk perkantoran dan penampungan karyawannya.
Krisis ekonomi di US dan masa depan kapitalismeOleh: Ulil Abshar AbdallaKrisis ekonomi yang sekarang sedang menerjang AS mulai saya lihat dampaknyasecara riil dalam kehidupan sehari-hari, meskipun dampaknya tidak seburukpada saat depresi besar tahun 30an (sekurang-kurangnya kalau kita lihatmelalui fim "Cinderella Man"). Sejumlah toko gulung tikar di kota keciltempat saya tinggal saat ini. Beberapa teman merasakan betapa sulitnyamencari pekerjaan sekarang ini. Pengalaman ini bahkan dialami oleh isterisaya sendiri. Harga tiket untuk menonton pertandingan "post-season" Red Sox di Fenway Parkmerosot banyak, hampir mendekati "face value", artinya harga banderol. Padamusim normal, harga tiket melambung jauh di atas harga banderol. Walau punharganya sudah didiskon lumayan besar mendekati harga banderol, tetap sajatiket tak terjual habis. Empat hari yang lalu, gubernur negara bagian Massachusetts (MA), DevalPatrick, memutuskan untuk memotong bujet sebesar 1 milyar dolar, dan akanmemecat pegawai negeri sekitar 1000 orang. Negara bagian MA melakukanpengetatan ikat penggang secara drastis. Salah satu pos yang mengalamipemotongan bujet adalah program asuransi kesehatan yang dibiayai negara,yaitu paket yang disebut MassHealth. Kedua anak saya menikmati program ini.Saya benar-benar khawatir apakah pemotongan ini akan berdampak pada programasuransi anak saya. Salah satu perusahaan negara yang didirikan untuk memberi pekerjaan parapara tuna-netra akan ditutup dalam waktu tiga bulan mendatang, padahalperusahaan ini sudah berdiri lebih dari 30 tahun. Sejumlah kaum tuna-netramelakukan protes atas pemotongan bujet ini. Sementara itu biaya perawatantaman kota juga mengalami pemotongan, sehingga kecantikan kota Bostonmungkin tidak bisa dirawat dengan intensitas sebagaimana berlaku selama ini.Pasti masih banyak dampak lain yang tidak bisa saya lihat karena saya taklangsung berkecimpung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika.Sebagai seorang pelajar, saya hidup dalam sebuah "karantina sosial" yangmembuat saya tak bisa langsung merasakan denyut kehidupan sehari-harimasyarakat Amerika. Saya hanya bisa memandang dari kejauhan. Saya ingin melihat krisis ekonomi di Amerika saat ini dari sudutnon-ekonomi. Krisis ini sangat positif bagi pemerintah dan rakyat Amerikasekaligus. Terus terang saya muak dengan pemerintahan Bush saat ini karenaalasan yang sangat sederhana: pemerintahan AS di bawah Bush saat ini tampaksangat sombong. Calon Presiden dan Wakil Presiden dari Partai Republik saatini, McCain dan Palin, mewarisi kesombongan yang sama. Krisis ini memberipelajaran kepada orang-orang Republik yang mind-set-nya saat ini cenderung"militeristik" dan "sok jagoan" agar mereka tahu bagaimana bergaul denganbangsa-bangsa lain secara lebih sopan. Yang memuakkan saya pada Partai Republik saat ini adalah kombinasi antara"fiundamentalisme Kristen" dan cara berpikir yang "sok jagoan" di kalanganmereka. Saya benar-benar tak betah mendengar retorika kampanye McCain-Palinyang sombong dan sinis. Selama kampanye ini, saya baru merasakan betapamasih mendalamnya rasisme dalam sebagian masyarakat Amerika. Yang palingmenyakitkan buat saya adalah sikap sebagian publik Amerika, terutamakalangan Republik, yang menuduh Obama sebagai seorang Muslim. Seolah-olahmenjadi seorang Muslim adalah "cacat sosial" yang membuat seseorang taklayak menjadi seorang presiden. Sebagaimana diulas dengan baik oleh Fareed Zakaria dalam "The Post-AmericanWorld", tak bisa dipungkiri bahwa dominasi Amerika saat ini sedang tersaingioleh munculnya kekuatan-kekuatan lain, terutama di kawasan Asia (the rise ofthe rest). Banyak pihak di Amerika yang tak siap menerima kenyataan ini,terutama mereka yang memiliki mind-set sok jagoan itu. Krisis keuangan danpasar saham di Wall Street saat ini, di mata saya, dari satu segi sangatbaik, karena --semoga saja-- bisa menggembosi "sense of invincibility" , rasatak pernah bisa dikalahkan. Saat Roger Federer selama berbulan-bulan menjadi petenis nomor satu di duniayang susah dikalahkan, orang mengira bahwa Federer adalah "invincible" .Ketika dia kalah berturut-turut di tangan Rafael Nadal dalam dua kejuaraangrand slam tahun ini, yaitu French Open dan Wimbledon , kita menjadi tahubahwa Federer ternyata bisa "dilukai", bisa dikalahkan. Ternyata dia bukan"invincible" . Selama ini, pemerintah AS, terutama kalangan neo-konservatif,merasa bahwa negeri AS adalah seperti Roger Federer yang "invincible" itu.Krisis ini datang untuk memberi pelajaran bahwa bahkan Federer pun mempunyaikelemahannya sendiri, dan karena itu bisa dikalahkan. Krisis ini, di mata saya, bukan menandakan bahwa kapitalisme akan bangkrut.Kapitalisme mengalami krisis bukan sekali ini saja, tetapi sudahberkali-kali. Dan selama ini kapitalisme bisa mengatasi krisis-krisis itu.Keunggulan sistem kapitalisme dibanding dengan sistem lain adalah bahwasistem ini mengandung mekanisme internal untuk mengoreksi dirinya sendiri. Krisis ini sama saja dengan sebuah "teka-teki" dalam kerangka "sains normal"sebagaimana dipahami oleh Thomas Kuhn. Krisis ini tampaknya belum akansampai berujung pada "perubahan paradigma" (paradigm shift). Setiap sainsnormal selalu akan berhadapan dengan apa yang oleh Thomas Kuhn disebutsebagai "contra-instances" atau fenomena yang janggal. Biasanya sains normalakan bisa mengatasi keadaan seperti ini, seraya melakukan penyesuaian diridengan data-data yang sudah berubah. Tetapi, krisis ini, di mata saya, kian memperdalam keadaan yang sudahberjalan saat ini, meskipun dengan sengaja hendak diabaikan oleh sebagianorang Amerika sendiri, yaitu keadaan bahwa Amerika bukanlah negeri yang takbisa "terluka", bukan negeri yang tanpa "Achilles' heel". Kita semua tahubahwa tindakan Bush beberapa tahun lalu yang melakukan serangan atas Iraksecara unilateralistik telah membuat bangsa-bangsa di dunia marah bukanmain. Saat ini, reputasi "moral" negara Amerika merosot total di mata duniapersis karena unilateralisme yang "sombong" itu. Krisis ini adalah positifkarena bisa menjadi semacam jarum yang akan menggembosi balon "sense ofinvincibility" pemerintah Bush dan mind-set kaum Republikan danneo-konservatif saat ini. Meskipun krisis ini tampaknya tak akan membawa suatu peralihan paradigma,sebaliknya hanya merupakan teka-teki biasa dalam kerangka sains normal,tetapi, sebagaimana ditulis dalam majalah The Economist edisi terakhir("Capitalism at bay"), memang ada suatu perkembangan baru yang memaksabanyak kalangan untuk berpikir ulang tentang praktek kapitalisme saat ini. Dua mazhab besar dalam kapitalisme saat ini bertengkar dalam hal bagaimanamemandang peran pemerintah dan pasar serta hubungan antara keduanya. Di satupihak, kita melihat mazhab yang memandang peran negara masih tetap relevanbahkan diperlukan dalam kerangka mengoreksi pasar, sebagaimana kita lihatdalam teori Keynes selama ini. Di pihak lain kita melihat mazhab lain yangjustru melihat peran pemerintah sebagai hal yang pada dirinya mengandungunsur yang distortif dalam pasar dan karena itu berbahaya. Krisis sekarang ini memperlihatkan bahwa pasar, sekurang-kurangnya pasarkeuangan sebagaimana diwakili oleh pasar saham di Wall Street, bukanlah"sistem tertutup" yang bisa bekerja sendiri tanpa membutuhkan peran lembagapublik di luar dirinya. Sebagaimana secara ironis ditulis oleh majalah TheEconomist, "In the short term defending capitalism means, paradoxically,state intervention" . Jangan salah paham: keduanya adalah mazhab dalam sistem kapitalisme, bukanaliran di luar sistem itu. Saya kira, debat antara dua mazhab itu tak akanpernah selesai dalam beberapa waktu mendatang, mungkin malah tak akan pernahselesai. Krisis saat ini yang memaksa pemerintah federal AS turun tanganuntuk "menolong" bank-bank yang bangkrut selain merupakan sebuah "paradoks"dalam kapitalisme tetapi juga pertanda bahwa peran negara tak pernah akanbisa diabaikan. Pasar, pada akhirnya, tidak bisa diandaikan "mengatur dirinya" sendirisecara menyeluruh, sehingga menolak intervensi dari pihak lain. Sementaraperan negara kita andaikan sangat penting untuk meregulasi pasar yang mulaimengandung praktek-praktek yang membahayakan publik, kita juga harus awasterhadap peran negara itu sendiri. Peran negara tak bisa kita andaikansebagai sesuatu yang dengan sendirinya "baik" karena sudah pasti mewakilikepentingan publik. Sebab apa yang disebut "kepentingan publik" yangditegakkan melalui lembaga negara itu bisa pelan-pelan menjadi selubunguntuk kepentingan sebuah "kroni" yang menyelundup sebagai "pembelakepentingan publik" tetapi sejatinya melayani dirinya sendiri. Ini semua menyadarkan kita semua pada kompleksitas sebuah anyaman yangdisebut sebagai masyarakat. Karena itulah dalam sosiologi, masyarakat biasadisebut sebagai "fabric" atau tenunan, sebab tersusun dari sebuah anyamanyang kompleks. Di masa mendatang, kita harus mulai membiasakan diri berpikirdalam kerangka kompleksitas semacam ini. Ulil Abshar Abdalla
Modal Kejayaan Indonesia
Oleh Aloys Budi Purnomohttp://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/28/01390368/modal.kejayaan.indonesiaQUO res cumque cadant, stat semper linea recta! Biarpun semua roboh,tetaplah di garis lurus! Menurut YB Mangunwijaya, ungkapan itumerupakan semboyan raja-raja Ligne.Semboyan yang sama bisa memotivasi keindonesiaan yang sedang berjuangmengatasi keterpurukan. Inilah yang mungkin mendasari pernyataanPresiden Yudhoyono sebagaimana dilansir dalam berita jalan MetroTv(26/10/2008 pukul 16.45), "Presiden: Indonesia bertekad menjadi negaramaju, dengan perkokoh kemandirian bangsa, memacu daya saing bangsa,dan membangun peradaban bangsa".Tekad menjadi negara maju memperkuat kemandirian, memacu daya saing,dan membangun peradaban bangsa tidak boleh hanya menjadi slogan,tetapi harus memotivasi tindakan.Tekad itu senada dengan seruan Prof Dr Ichlasul Amal (1998) saatmengajukan gagasan demi membangun strategi dan upaya menyusun agendapolitik dalam reformasi, "There is an urgent need not only to critizethe past, but even more so to plan the future!"Modal keindonesiaanKeindonesiaan kita dibangun para founding father dengan tiga modalutama yang tidak boleh diabaikan siapa pun yang sedang dan akanmemimpin republik.Pertama, keindonesiaan sekarang ini dibangun dengan modal hati yangmampu mendengar, ikut terlibat, dan merasakan penderitaan rakyat yangpada masa itu tertindas penjajah asing.Para founding father bahkan rela menderita secara pribadi maupunbersama keluarga dan kelompok. Mereka tidak gentar menghadapipenderitaan bersama rakyat. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi nyataberjuang.Kedua, para pendiri republik dengan segala upaya mengembangkanintelegensi yang tinggi. Karena itu, mereka mampu menyerap segala yangbaik dan bijak dari berbagai budaya dunia, entah dalam tingkatregional Asia , internasional Eropa, maupun Amerika, bahkan benua lain.Daya intelegensi tinggi membuat mereka peka terhadap tanda-tanda zamandan menggunakannya sebagai modal untuk membangun cita rasakeindonesiaan. Aspek intelegensi tinggi nan cerdas ini tidakditunggangi kemaruk kekuasaan, apalagi mencari keuntungan diri,keluarga, maupun kelompoknya.Tujuan mereka satu: membangun kesatuan, keutuhan, dan kemerdekaanIndonesia sebagai bangsa merdeka dan mandiri!Jalan damaiModal ketiga yang tidak kalah penting dan harus dikembangkan adalahmenempuh jalan damai. Para pemuda yang mewariskan momentum "SoempahPemoeda 28 Oktober 1928" untuk bangsa ini bergerak membangun jalandamai. Mereka tidak mengandalkan kekerasan dalam memikirkan masa depanIndonesia .Mereka mengedepankan persatuan dan kesatuan. Itu sebabnya merekaberseru satu tanah air, tanah air Indonesia ; satu bangsa, bangsaIndonesia ; satu bahasa, bahasa Indonesia.Mereka mengutamakan jalan damai kesatuan dan persatuan, bukankekerasan. Kalaupun terpaksa terlibat kekerasan dengan lawan, iadipakai untuk menghayati hak membela diri, bukan untuk sekadarmenyerang lawan dan menghancurkan pihak lain.Agaknya, para founding father republik ini sadar. Keadaan yangdihadapi memang penuh kekacauan, kekerasan, dan penindasan dalamkonteks feodalisme asing. Namun, mereka tidak kehilangan pedoman etisuntuk mengedepankan sikap moral eling lan waspada.Kearifan spiritual-kultural Ronggowarsita merasuki sepak terjangmereka bahwa sabegja- begjane wong kang lali, isih begja wong kangeling lan waspada. Sebahaagia-dan- merasa-beruntung mereka yang lupamasih akan bahagia-dan- beruntung mereka yang tetap sadar dan waspada.Justru karena eling lan waspada, mereka terlibat penderitaan rakyatdan tidak mau mengeruk keuntungan di atas penderitaan rakyat. Karenaeling lan waspada, mereka peka terhadap penderitaan rakyat danberjuang demi rakyat.Maka, benarlah ungkapan yang dikutip Jürgen Moltmann (1986) bahwakelupaan menuntun (manusia) menuju pembuangan (kehancuran) ;(sedangkan) sikap sadar dan waspada mempercepat keselamatan(kesejahteraan) .Agaknya, para pemimpin dan para calon pemimpin bangsa ini perlumemahami betul modal keindonesiaan yang diwariskan para pendirirepublik. Jika demikian, seburuk apa pun situasi kondisi bangsa inidalam perspektif mana pun, kita akan tetap maju di jalan lurus menujumasa depan Indonesia yang maju dan jaya!Aloys Budi Purnomo Rohaniwan, Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI,Lentera yang Membebaskan
Rabu, 04 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar