Hidup itu Tiga Perkara
Oleh: Wahyu
Bongan kang tan merlokena
Mungguh ugering ngaurip
Urip lan tripakara
Wirya arta tri winasis
Kalamun kongsi sepi
Saka wilangan tetelu
Telas tilasing janma
Aji godhong jati aking
Temah papa papariman
Ngulandara
(Nukilan dari serat Wedhatama, karya KGPAA Mangkunegoro IV 1811 – 1881)
Terjemahan bebas:
Laki laki itu harus mempunyai martabat atau harga diri di tengah kehidupan. Karena itu dia harus mampu untuk memenuhi tiga perkara, yaitu KEDUDUKAN, KEKAYAAN dan KEPANDAIAN. Jika ia tidak mampu memperoleh ketiganya maka hilanglah martabat kemanusiaannya.
Ibarat lebih berharga daun jati kering, menjadi terhinakan dan pada akhirnya hanya menjadi pengemis pengembara tak tentu tujuan.
***
Serat Wedhatama buah karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro IV raja dari mangkunegaran itu sungguh relevan bila di persandingkan dengan keadaan kekinian orang Indonesia yang hidup dalam alam dunia yang dikuasai oleh kapitalisme dan era globalisasi dunia. Hasil pemikiran raja dari solo yang torehkan pertengahan abad 19 ini sungguh telah melampui jamannya, yang bisa memotret secara faktual bahwa harga diri manusia hidup itu di pandang dari 3 perkara, yakni kedudukan, kekayaan dan kepandaian.
Bahwa kenyataan hidup mutlak memerlukan ketiga perkara itu, tentunya harus di perjuangkan dengan sarana belajar dan belajar lagi, bekerja dan lebih giat lagi tanpa pamrih dimanapun berada dan setiap kesempatan yang ada. Sebab kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya, dan peluang akan hilang percuma kalau tidak arif untuk memanfaatkannya. Dengan bekal kepandaian dijadikanlah sebagai alat atau modal dasar untuk memperoleh kedudukan, dan tentunya setelah kedudukan diperolehnya maka kekayaan akan datang dengan sendirinya.
Pandangan hidup yang demikian ini sangatlah paradoks dengan falsafah jawa yang sudah lekat dan tebal terdengar bahwa hidup itu narima ing pandum, terciri dengan sikap pasrah, no complaint dan sugih ora sugih pokoke kumpul. ( jadi kaya ataupun miskin yang penting kumpul) jadi bukan materi dan pencitraan diri namun kerukunan dan harmoni sebagai tujuan utamannya.
Dengan dua pandangan kontras di atas yang keduanya kebetulan berasal dari orang jawa, maka akan sangatlah menarik untuk di telaah di balik pandangan hidup itu. Mungkinkah raja jawa itu saking sudah muaknya melihat pola pikir rakyatnya yang pasrah, sehingga mengeluarkan anjuran untuk memperoleh ketiga perkara tersebut. Ataupun sebenarnya pandangan hidup pasrah itu sebagai output dari mental inlander karena di cekoki terus oleh penjajah belanda agar orang jawa tidak neko neko, dan bermental pasrah dengan menyerah dengan nasib. Entahlah, mungkin suatu saat ada ahli yang bisa menerangkan soal ini.
Dalam kehidupan sehari hari di zaman sekarang ini memang hal yang berkaitan dengan 3 perkara inilah yang sangat mendominasi, sehingga tak mengherankan apabila saya, anda dan kalian semua, baik sebagai pelaut yang bekerja terombang ambing di tengah lautan atau pekerja migrant lainnya, baik yang berkedudukan sebagai CEO di perusahaan bergengsi sampai dengan menjadi babu babu di Malaysia dalam rangka mengais remah remah rejeki di negeri orang.
Mungkin sudah menjadi suratan nasib bahwa dalam memperoleh tiga hal tersebut diatas, sebagai pekerja migrant kita tidak terlalu berharap banyak kepada pemerintah. Karena sudah terbukti sampai dengan detik ini peran pemerintah bukan memberikan perbaikan malah menjadi beban, menjadi persoalan tambahan. Para pekerja migrant jauh melalang buana dalam mengais rejeki bukan di beri tuntunan atau di permudah jalannya malah di persulit dengan banyak diterbitkannya peraturan peraturan yang terkesan mengada ada. Sebut saja dari yang sertifikat kompetensi BST, sampai dengan kenaikan fiscal yang gila gilaan.
Kadang rasa keheranan yang tak kunjung terjawab dengan maksud pemerintah ini, apakah dengan di terbitkannya peraturan itu sebagai upaya menutup peluang terjadinya“brain drain” (mengalirnya tenaga kerja ahli/terdidik keluar negeri) atau maksud lain? Barangkali aturan itu di buat untuk gagah gagahan saja. Bahkan bisa jadi peraturan itu di terbitkan untuk membuka peluang guna memperoleh project atau sarana kubangan korupsi yang baru. Entahlah, coba tanyakan saja kepada tiang kapal yang bergoyang.
Sebenarnya yang di harapakan oleh para pekerja migrant dari pemerintah itu adalah berperan sebagai “mayungi wong kodanan, madangi wong kepethengan” memberikan penerangan yang gamblang dan melayani dengan kesungguhan hati. Bukan malah memerah dan melabeli dengan gelar pahlawan devisa segala padahal di dalam negeri sendiri kelabakan dalam menyediakan lapangan kerja.
Seandainya pemerintah sebagai penyelenggara bernegara bisa mengayomi setiap warga negaranya, dan mengantarkan pada gerbang kemakmuran sampai dengan mewujudkan negara yang adil, tata titi tentrem kertaraharja maka tidak perlu lagi rakyatnya berbondong bondong ngulandara ( mengembara) menghiba tetesan rejeki di negeri orang.
Percayalah bahwa sebenarnya dalam relung benak sebagian besar para pekerja migrant itu, tujuan mengembara jauh dari tanah air, sanak saudara hanya 3 perkara, yakni tercukupinya 3 W = Waras, Wiris, Wareg ( Sehat dan sejahtera, Aman dan nyaman, Kenyang dan makmur) hanya itu saja tidak ada yang lain.
Untuk itu dalam kesempatan ini pula saya mohon pamit untuk pulang ketanah air tercinta, mohon ma’af apabila dalam tulisan atau ucapan ada yang kurang berkenan.
Wahyu Indro
Ensenada, Mexico 4-Feb-2009
Ma’afkan Aku Sayang
By: Wahyu
Juneau, Alaska 27 Mei 2007
Temans,
Setelah sekian lama tak bersua dalam tulisan, dikarenakan kesibukan maka ijinkan saya menorehkan sedikit buah buah perpisahan.
Kali ini lain dari bisanya, bukan bermaksud untuk mendayu namun saya coba untuk mengungkapkan akan agungnya sebuah pengorbanan. Pengorbanan dari seorang istri pelaut. Semoga memberi arti.
Selamat bertugas, ma’afkan bila ada kata salah dan ketemu lagi next contract.
Dear Istriku di rumah,
Hallo ya ummi Yusuf, istrikku tercinta apa khabarmu hari ini?
Dik, bisakah kau melukiskan perasaanku yang bergelora ketika membaca emailmu yang lalu? Sungguh tulusnya hatimu serunut dalam untaian buah tulisanmu, demi mataku berkaca kaca ketika menyimak emailmu. Kata demi kata yang lurus, tepat menghunjam ke palung sanubariku. Sepertinya kau tahu kalo aku selalu mengharap akan kehadiran emailmu, dan ketika kurasakan tak ada orang di sekelilingku yang peduli keberadaanku emailmu nan datang, laksana salju di Alaska ini terbakar, kehangatan.
Dalam emailmu aku bisa merasakan hatimu berbicara, nuranimu mengeja seakan sengaja kau membelai punggungku, untuk menghibur, memompakan semangat kepada suamimu yang sedang di rundung banyak pekerjaan. Meskipun udara di Juneau , Alaska sini dingin menggigit tulang namun sepertinya hangat terasa, demi membaca kata kata doronganmu untuk tetap istiqomah dalam menjalankan tugas.
Dik, terimakasih cintakku.Telah kau kawal dengan selamat akan jalannya rumah tangga kita, ketika aku tinggal pergi, suamimu yang tak selalu disisimu.
Terimakasih sayangku, tak kau hiraukan hiruk pikuknya orang di sekitarmu memikirkan kebahagian melalui materi yang meliimpah, suami rexona yang ada setia setiap saat disisinya. Sungguh, begitu tulusnya sosokmu sebagai istri seorang pelaut yang bahagia dengan perngorbanan. Perngorbanan akan sepi sepinya malam, merenda dan meretas sendiri dalam keseharian.
Dik, pantas sekali aku bersujud syukur pada Allah, di beri pasangan istri yang solehah sepertimu, yang selalu mendorongku ketika rasa asaku telah diambang nadir, yang selalu mengingatkan ku dalam setiap kealpaan. Isteri yang selalu menyayangiku, merawat dan mebesarkan buah hati kita dengan penuh ketulusan, sungguh aku mendapatakan istri yang melebihi dari apa yang aku harapkan.
Kini aku sadar, selama ini aku kira aku orang yang sangat hebat, mengerti semua akan masalah hidup, unggul dalam segala hal, namun ternyata kau jauh lebih digdaya dari segala keperkasaanku. Membayangkan pun ku tak kuasa apabila aku harus mengoper semua tugas dan tanggung jawab yang kau emban selama ini.
Perempuan, sosok lemah seperti gambaran selama ini membalikkan keadaan, tegar tulus tanpa pamrih dalam pengabdian dan pengorbanan.
Ma’afkan aku sayang, seharusnya kesadaranku ini telah tertanam sejak dulu, sedini ketika kita berikrar sumpah. Seharusnya tak pernah melukai hatimu oleh ulah keegoisanku, labilnya emosiku. Sering kali aku terlupa bahwa beban tugasmu, beratnya pengorbananmu membuat pesananku yang tak kunjung kau penuhi, dan aku harus mampu untuk lebih banyak belajar bersabar. Sungguh, seperti di tulis dalam kitab suci bahwa surgalah hadiah buat istri yang salihah.
Dik, dua hari lagi aku akan pulang, tiba di rumah setelah sekian lama pengabdian. Setelah sekian lama, 6 bulan jauh dari rumah dengan meninggalkan kau dan anak kita tersayang. Maka jemputlah aku dengan kebahagian, luapkanlah segala kerinduan. Kini terbayang sudah akan binar kegembiraan, senyum lebar keceriaan darimu, dari anak kita, dari semua anggota keluarga. Betapa larut dalam bahagia.
Kadang terpercik nan terlintas rasa akan bimbang apakah aku akan tercerabut lagi dari rasa kegembiraan dalam kebersamaan? Kapal apa next contract dan berapa lama lagi kita tinggal semua kegembiraan?
Dik, percayalah suamimu meninggalkan mu ini karena keadaan, karena sebuah angan. Sebuah angan yang besar dalam mewujudkan, sebuah istana yang kita kan bertahta di dalamnya, istana impian berjuluk sakinah mawaddah warrahmah.
By Wahyu.
*** inspired by Garuda Contingents.
Perlakuan Oknum Aparat Imigrasi Paska Pembebasan FiskalNizar Bunyamin [buskom@gmail.com]
Sebetulnya telah beberapa lama saya mengagumi kinerja rekan-rekan aparatimigrasi di bandara Sukarno-Hatta, tidak ada bahasa bertele tele baik padasaat keberangkatan maupun pada saat kedatangan.Namun kemarin tanggal 1 Februari 2009, salah satu staff saya mengalamikejadian yang sangat membuat tidak nyaman, yang membuat mindset stereotypingnegatif saya terhadap aparat pemerintah terbuka kembali.Staf saya tidak mengalami masalah pada saat proses check in, tidak mengalamimasalah pada saat proses bebas fiskal, namun pada saat di check pointimigrasi passport staf saya dipermasalahkan, dengan pertanyaan tujuankemana, berapa lama dan mana tiket pulangnya. Kondisi staf saya saat ituadalah dengan membawa one way ticket, karena dalam trip-trip di perusahaankami sebelumnya, travel dengan one way ticket tidak pernah menjadipermasalahan, dan policy negara tujuan juga mengijinkan untuk memiliki oneway ticket.Kemudian staf saya dibawa ke sebuah ruangan oleh petugas imigrasi tersebut,di ruangan tersebut dengan diinterogasai oleh sekurang-kirangnya 5 orang,track record perjalanan staf saya dipermasalahkan, di passport staf sayamemang terdapat continous visit ke thailand sampai 6 bulan dan 9 bulan,dimana setiap visa habis staf saya memperpanjang dengan cara melakukan tripkeluar thailand , kondisi ini dijadikan alasan bagi staf imigrasi tersebutuntuk menahan staf saya, yang bisa diduga ujung-ujungnya adalah uang.
Nilai damai yang ditawarkan adalah Rp. 500.000,- , hanya saja staf saya pada saatbepergian memang tidak pernah membawa uang, karena di lokasi tujuan memangsudah ditanggung segala-galanya, sehingga ancaman terakhir yang diberikanoleh oknum petugas imigrasi tersebut adalah dengan mencatat alamat stafsaya, momfotocopy passport staff saya, dan mengancam untuk tidak berbuatmacam-macam, dan mengharuskan staf saya untuk mentransfer via Western Unionsegera setelah sampai di tempat tujuan, sang oknum memberikan nama tujuantransfer, yang jelas bukan nama yang bersangkutan beserta alamatnya, stafsaya dilepas 10 menit sebelum boarding.Saya sangat ingin memiliki mindset positif terhadap aparat pemerintahan,namun dengan pengalaman mengurus perijinan yang rumit dan dengan biaya yangluar biasa untuk ukuran saya, ditawari membeli nilai oleh guru anak saya andnow this, apa saya salah memiliki bentuk stereotyping negatif terhadapaparat pemerintah ???.
Apakah Bangsaku Tidak Lagi Diperhitungkan?
Oleh : Ustad Yusuf Mansyur.
Apakah Bangsaku Tidak Lagi Diperhitungkan?
2004 saya jalan ke Brunei . Karena saya pikir dkt, saya cuma bawa 1 kantong plastik saja. Ternyata di perjalanan, bawaan saya bertambah.
Begitu masuk bandara Brunei , saya berniat membli tas. saya tawarlah 1 tas di 1 toko. Setelah dikurskan ke rupiah, angkanya jd 4,2jt. saya terbelalak, dan setengah bercanda saya bilang bahwa di Indonesia , tas kayak gini palingan 300-400rb atau paling mahal 1jt dah. Eh, si penjaga toko memasang muka merendahkan gitu, dan bilang: "No no no... Bukan tas kami yang mahal, tapi you punya rupiah yang tak ada harga!".
Ya Allah, seperti ditampar rasanya muka saya. Segitunyakah rupiahku?
Segitunya kah negeriku? Mata uangnya tak ada harga. Lalu, pegimana bangsanya? Bagaimana negerinya? Adakah martabatnya?
2008 ini entah yang keberapa kali saya mengadakan prjalanan keluar negeri. Sudah tidak saya hitung lg saking seringnya, he he he. Nikmat ini saya syukuri. Saya tringat, dulu saban saya dimandiin dan dipakaikan pakaian oleh ibu saya, ibu saya hampir selalu berdoa dg doa yang relatif sama. Ya, hampir selalu. Doanya biar saya, katanya, gampang bulak balik ke mekkah, seperti ke pasar. Terus biar bisa keliling dunia. Yusuf kecil saat itu, sempat pula bertanya sambil ketawa, masa iya ke mekkah segampang ke pasar? Lagian mana mungkin sih keliling dunia? Ibu saya menjawab, eeeehhhh... Allah Punya Kuasa. Kalo DIA mau, gampang buat DIA mah. Nabi Muhammad aja diterbangin isra mi'raj.
Ya itulah doa ibu saya. Alhamdulillah. Trnyata betul. Sekarang saya alami sendiri. Pergi haji buat saya pribadi udah benar-benar gampang.
Alhamdulillah. Biar pintu pendaftaran dah ditutup, saya masih bisa pergi dengan undangan kerajaan punya, atau dengan cara-cara yang tahu-tahu saya udah di sana ! Subhaanallaah memang. tapi saya ga aji mumpung. Waktu ibu saya, mertua dan rombongan keluarga ga dapat nomor haji, banyak orang dekat bilang, pake dong power ente. Ah, saya mah malah bilang, sabar ya bu. Sabar ya wahai keluargaku. Pergi haji mah urusan Allah. Ga usah dicari-cari. Kalo dah waktunya, ya waktunya.
Dan alhamdulillah, pergi ke luar negeri pun sekarang ini saya yang susah payah menolak undangannya. Masya Allah. And I speak not only in bahasa; but both in arabic and english as an international language.
Saya bersyukur dengan keadaan ini, tapi sekaligus ada yang membuat saya menjadi tertegun. Betapa " Jakarta " dah ga dianggap. Di hampir semua bandara internasional; baik asia, maupun non asia, nama " Jakarta " ga ada lagi di board penunjuk waktu.. Yang ada: London , Paris , New York , dan kota-kota besar dunia. Bahkan ada nama Kuala Lumpur ! Sedang Jakarta, yang mewakili satu nama besar: Indonesia , ga ada lagi di board tersebut.
Apa yang sedang terjadi dengan bangsa kita, kita semua tahu...
Setiap kali keluar kota dan keluar negeri, saya termasuk yang langka punya. Ga bawa duit, dan ga bawa kartu kredit. Bukan apa-apa, sebab biasanya saya dijemput langsung di pintu pesawat. Atau kalaupun tidak, dijemput di setelah lolos imigrasi. Oleh para penjemput di kota-kota atau negeri-negeri orang, saya sudah ditanggung beres.. Jadi, uang yang saya bawa, benar-benar ga laku, he he he. Pengertian ga laku ini, hanya untuk menunjukkan ga terpakai. Sebab kalaupun saya bawa dollar, mereka-mereka menahan saya untuk bayar. Mereka saja yang berkhidmat.
Hingga satu waktu, saya jalan ke Singapore untuk keperluan pribadi..
Berangkatlah saya sendiri, sebagaimana biasanya. Ya, saya senang berangkat sendirian. Sebab simple. Enteng. Ga banyak-banyak orang.
Paling banter, berdua dg istri atau anak-anak. tapi ini pun jarang.
Dan
sampe di Singapore juga sendiri. Ga ada yang jemput. Sebab saya pun tidak mmberitahu kawan-kawan di sana. Sampe di Changi saya baru ingat, saya hanya bawa 2jt. Dan itu rupiah. Belum saya tukerin. Menjelang keluar bandara, saya laper, pengen cari cemilan dan kopi. Bergegaslah saya ke salah satu sudut, untuk beli yang saya maksud. Saya pikir, bisa lah skalian nuker seperti kalo belanja di Bangkok , Thailand . Eh, ternyata saya salah. " Indonesia ?" , tanya pelayan toko. Ya, saya bilang.
Indonesia. "Oh, sorry," katanya sambil muka nya ga enak gitu. "Your money didn't accepted here". Masya Allah! Lagi-lagi kayak ditampar saya ini. Uang rupiah ga diterima di sini.
Selanjutnya dia menunjukkan money
changer di bandara. Saya mengurungkan niat saya untuk nyemil dan ngopi.
tapi saya pura-pura mengiyakan akan menuju money changer. Dan subhaanallaah, kekagetan saya belom selesai. Si pelayan ini masih bersorry-sorry ria. Katanya, jagan kaget, rupiah rendah sekali katanya nilai tukarnya. Waaah, entahlah apa yang ada di benak saya....
Bahkan pengemispun tidak menerima rupiahku! Ya, itulah yang saya alami.satir. Mirip komedi satir. Lucu, tapi getir.
Antara 2004-2005, dalam 1 lawatan ke Eropa. Saya dkk turun di Frankfurt , German. Dari sini perjalanan ke beberapa negara di Eropa, dimulai. Sekian waktu , sampe lah kami di Belanda. Ada salah satu kawan di rombongan yang mmberi tahu betapa Indonesia sudah tidak ada.
"Hatta," katanya, "Di tempat pelacuran, ada pengumuman agar para pelacur tidak menerima mata-mata uang yang ditaroh di list. Salah satunya rupiah!". Kawan saya ini berkata geli. Saya pun ikut tertawa.
Tapi ngebatin. Ada segitunya ya.
Dari Belanda, kami pergi ke Belgia dan kemudian ke Perancis. Naik kereta super cepatnya Eropa. Enak, nyaman, dan menyenangkan. Turun di stasiun Perancis, kami dicegat oleh 1 pengemis perempuan.
Cantik menurut ukuran saya mah. Sampe saya geleng2 kepala, kenapa dia mengemis. Kalo boleh saya bawa, mending saya bawa ke Jakarta , he he he.
Trnyata dia mengaku Bosnia punya. Maksudnya, orang Bosnia . Sdg hamil pula. Entah bohong apa tidak. Salah satu kwn, memberinya rupiah.
200rb.
Di Indonesia, 200rb ini bukan cuma besar. Tapi sangat besar. Niscaya kalo pengemis di tanah air diberi 200rb, akan sujud2 rasanya kpd yang mmberi. Dia pun saat itu trsenyum. Barangkali dia merasa kwn saya itu sdh mmberinya uang besar. Kwn saya pun senang melihat pengemis itu senang..
Lusanya, kami langsung balik ke Amsterdam , Belanda. Naik kereta lagi. Sampenya di stasiun, ketemu lagi dengan pengemis perempuan muda tersebut. Kali ini wajahnya bersungut-sungut. Dari kejauhan dia melihat kami. Begitu melihat kami, dia langsung berlari menuju kami dengan wajah yang tiba-tiba kesal begitu. Terus, langsung menemui kawan saya yang tempo hari ngasih. Dengan kasarnya, uang 200rb itu dipulangin.
Katanya, sambil marah, dia mengatakan, ini toilet paper! Gila, saya bilang, uang kita disebutnya kertas toilet. Dia bercerita sambil membuat kawan-kawan terbahak-bahak. Katanya, dia berusaha menukar uang kita itu, tapi ga ada yang nerima. Barangkali semua kawan sama dengan saya, di selipan tawa kami, ada satu kegetiran, segitunyakah rupiah saya? Rupiah kita? Sampe pengemis saja ga menerimanya? Masya Allah.
Bangkitlah wahai negeriku. Bangkitlah wahai negeriku.
Hampir di setiap events internasional, perhatian kita (untuk saya tidak mengatakan perhatian pemerintah), sangat-sangat kurang.
Terbilang
lumayan sering anak-anak Indonesia berprestasi memenangkan kompetisi-kompetisi internasional semacam olimpiade fisika, matematika, sains, bahasa dan lain-lain. Tapi sepi benar dari pemberitaan.
Berita-berita buat bangsa kita tidak lagi ada, atau sedikit, yang mmbuat kita sendiri bangga. Barangkali seperti tulisan saya ini, he he he. Maaf ya. Tapi emang kenyataannya begini.
Saya pernah membaca ada seorang yang sangat pintar di negeri orang.
Tapi katanya dia ga merasa dihargai di negeri sendiri. Akhirnya hasil penemuannya dipatenkan di negeri di mana dia belajar dan mengabdi, dan kemudian dia mendapatkan permanen residence dari negeri tsb.
Sekelompok kawan TKI di salah satu negara tujuan TKW, mengeluhkan juga tentang "perwakilan" mereka di negeri itu. Katanya, kita punya gedung sekian belas lantai. Tapi nothing buat kita! Begitu katanya. Wuah, miris juga saya dengar. Lihat terusan kalimatnya. "Sedangkan Philipina, hanya 2 lantai, itu pun ngontrak, tapi bangsanya bangga dengan kerja perwakilannya. Puas". Sedangkan kita, benar-benar payah. Kalau kita lapor (maksudnya itu TKW2), kita ga diperlakukan dg ramah. Malah jadi kayak jongos benar-benar. . Mereka kemudian cerita, bangsa aslinya sendiri, ketika mereka datang mau mengadu, mereka duluan yang menyapa:
What can I do for you...?". Ramah bener.
Yah, itu barangkali sekelumit hal-hal yang tidak menyenangkan. Tapi saya percaya, negeri kita masih diperhitungkan di dunia ini. Benarkah?
Siapa yang tidak bangga dengan Garuda? Maskapai Penerbangan Nasional yang menginternasional. Bangga. Sejarah Garuda demikian mengagumkan.
Hingga ketika diri ini yang bangga dengannya menerima satu kenyataan.
Kata seorang petinggi wilayah ketika saya menginap di kediamannya di Amstelvein, Belanda, Garuda tidak lama lagi tutup. Bukannya ga boleh terbang loh.. Tapi tutup. Sebab tidak laku atau gimana lah. Ga ngerti.
Beberapa tahun setelahnya, saya dikagetkan lagi dengan berita bahwa Garuda tidak diperkenankan melewati Eropa karena satu dua alasan.
Bahkan di wilayah saudi pun bermasalah. Entahlah apa yang sedang terjadi. Saat tulisan ini dimuat, Garuda sudah berhasil melewati masa-masa sulit itu. Bahkan Garuda sudah menangguk keuntungan dari yang tadinya merugi. Dan Garuda pun menerima penghargaan internasional.
Namun, ketika ada berita bahwa Garuda tutup dan Garuda dilarang terbang, rasanya teriris-iris hati ini. Tarbayang Garudaku yang gagah, yang jadi perlambang negeri ini, harus "menerima perlakuan" tidak hormat seperti itu. Terbanglah lagi Garudaku. Mengangsalah ke seluruh penjuru dunia. Supaya dunia tahu betapa gagahnya lambang negaraku.
Saya tersenyum kecut dengan dua berita yang turun dengan rentang waktu yang tidak berapa lama. Yaitu berita tentang petinggi kita yang kamarnya digeledah ketika berada di negeri orang. Dan yang satunya lagi, ketika diperiksa berlama-lama di imigrasi satu airport internasional. Lepas dari kenapa dan bagaimananya kisah di balik dua berita itu, bagi saya ya sekali2 memang petinggi kita kudu merasakan.
Merasakan apa? Merasakan jadi warganya. Tidak jarang kami-kami juga diperlakukan demikian. Seenaknya saja mereka masuk kamar hotel kami dan memeriksa kami dengan satu alasan sederhana saja: Kami harus memeriksa Anda! Begitu saja. Ga ada penjelasan.
Di Australia, berapa kali saya harus melewati pemeriksaan yang -- hingga -- ikat pinggang saya pun hrs ditaroh di pemeriksaan. Tas-tas saya pun hrs dibuka dan cenderung bahasa seharusnya: diobrak-abrik. Lagi-lagi alasannya
sederhana: Kami harus memeriksa Anda. Satu yang menyakitkan, mereka melihat wajah saya: Asia . Asia harus diperiksa. Lalu ditanyalah saya, darimana? Saya jawab dengan gagahnya: Indonesia . Eh tanpa dinyana, petugas membuka lembaran petunjuk, dia urut dengan jarinya, ketemu!
Ya,katanya, Indonesia harus diperiksa. Ooo, rupanya dilembar cek-list itu, nama Indonesia masuk daftar negara yang orang-orangnya harus diperiksa.
Subhaanallaah. Geram juga saya. Nanti, kata saya, kalau saya udah jadi Presiden, saya gituan dah dunia, he he he. Untunglah saya jauh jadi presiden. Kalo iya, udah perang terus kali bawaannya, ha ha ha. Perang urat syaraf. Betapa tidak, Bali saya periksa ketat seperti mereka memeriksa kita. Kamar-kamar mereka, tak geledah di sembarang waktu.
Dan saya instruksikan supaya mata uang yang dipakai, hanya rupiah. Tak bikin peraturan, dolar dan lain-lainnya, kecuali real barangkali karena negeri dengan mekkah dan madinah, he he he, ga boleh masuk ke Indonesia . Mereka sudah harus nuker di negaranya masing-masing. Bakal dimusuhin sih, tapi biar saja. Wong presidennya kan saya, ha ha ha.
Negara juga negara saya. Kalo ga suka, ya jangan masuk negara saya.
Cuma, saya akan bikin dunia juga jadi perlu sama saya, jadi perlu sama Indonesia . Sehingga pasti mereka akan susah payah nurut, seperti hebatnya kita diam dan nurut diperlakukan oleh mereka
Rabu, 04 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar